Perkuat Kemitraan, Kemensetneg bersama Organisasi Masyarakat Sipil Satukan Aksi untuk Perbaikan Gizi dan Pencegahan Stunting

Laporan Redaksi : Azhari

Jakarta, RIsatu.com – Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) melalui Deputi Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan SDM  Setwapres dan Staf Khusus Wakil Presiden RI bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (KemenPPN/Bappenas) dan  Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) terus mendorong penguatan kemitraan sebagai upaya strategis dalam mempercepat perbaikan gizi serta pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Dalam mengoptimalkan upaya tersebut, sebanyak 17 organisasi masyarakat sipil yang bergerak di isu gizi dan stunting, termasuk yang tergabung dalam jejaring Scaling Up Nutrition Civil Society Alliance (SUN CSA), berdiskusi dan melakukan pemetaan aksi, serta menyusun rencana kolaborasi untuk kegiatan tahun 2027.

Organisasi masyarakat yang terlibat diantaranya adalah Fatayat Nahdlatul Ulama, Nasyiatul Aisyiyah, Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dompet Dhuafa, serta Tzu Chi Sinarmas. Selain itu, lembaga mitra pembangunan seperti Nutrition International, Edu Farmers International Foundation, Global Health Strategies (GHS), Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), YAPPIKA, 1000 Days Fund, Yayasan Pembangunan Citra Insan Indonesia (YPCII), SNV Indonesia, Wahana Visi Indonesia, Yayasan Sayangi Tunas Cilik (Save The Children), Tanoto Foundation, dan Yayasan Cipta turut berkontribusi pada acara tersebut.

Penguatan kemitraan ini menjadi langkah strategis karena tantangan perbaikan gizi dan pencegahan stunting di Indonesia masih cukup kompleks. Ditambah lagi, hingga saat ini Indonesia  masih mengalami triple burden malnutrition (kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan kelebihan gizi) pada berbagai kelompok usia. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya perbaikan gizi perlu dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan banyak pihak.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi keterbatasan sumber daya untuk memperluas cakupan intervensi. Oleh karena itu, keterlibatan organisasi masyarakat sipil sangat dibutuhkan melalui advokasi, pemberdayaan masyarakat, komunikasi perubahan perilaku, maupun dukungan teknis, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Peningkatan Kesejahteraan dan Pembangunan Sumber Daya Manusia (PPKSDM) Setwapres Eddy Cahyono Sugiarto mengatakan bahwa perbaikan gizi serta pencegahan dan percepatan penurunan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Menurutnya, setiap pihak memiliki peran yang dapat saling melengkapi.

“Potensi, jejaring, serta pengalaman kuat dari organisasi masyarakat sipil yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke daerah tentunya menjadi modal kuat yang perlu dihubungkan agar berbagai intervensi berjalan lebih optimal dan memberikan dampak yang lebih luas,” ujarnya.

Eddy menambahkan, kolaborasi yang dibangun tentu tidak menghilangkan peran dan tugas masing-masing. Sebaliknya, berbagai kontribusi dapat disinergikan untuk mendukung tujuan bersama, yaitu mewujudkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Koordinator Gizi Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat KemenPPN/Bappenas Bahagiati Magfiroh menekankan pentingnya kemitraan yang terarah untuk menjawab kesenjangan di lapangan terutama dalam memperkuat layanan gizi, termasuk dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Melalui kegiatan ini, organisasi masyarakat sipil diharapkan mampu menjadi jembatan antara kebijakan nasional dan implementasi di lapangan agar sinergi tetap terjaga dan tidak tumpang tindih.

“Dengan jejaring kuat hingga tingkat daerah, organisasi masyarakat sipil diharapkan mampu menjadi jembatan antara kebijakan nasional dan implementasi pelaksanaan di lapangan, sehingga arah kebijakan nasional dapat diterjemahkan menjadi aksi yang disesuaikan dengan kebutuhan daerah,” paparnya.

Bahagiati menambahkan, hasil pemetaan dari organisasi masyarakat sipil ini tidak berhenti pada pertemuan kali ini saja, melainkan dilanjutkan menjadi aksi bersama yang lebih nyata dalam mendukung gerakan perbaikan gizi serta pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Berbagi Pembelajaran untuk Kuatkan Kolaborasi

Salah satu agenda utama pertemuan ini adalah sesi berbagi pembelajaran dari organisasi masyarakat sipil yang hadir. Sesi ini bukan sekadar ruang berbagi pengalaman, melainkan sarana pertukaran praktik baik sekaligus mengapresiasi kontribusi para mitra dalam mendukung upaya perbaikan gizi serta pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Berbagai aksi telah dilakukan, mulai dari mengawal advokasi di tingkat nasional, menyusun pedoman dan rekomendasi strategis, hingga turun langsung mendampingi kader Posyandu dan masyarakat di daerah. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa setiap organisasi memiliki cara dan kekuatan tersendiri dalam menjawab tantangan di lapangan.

Berbagai inisiatif yang dilakukan juga mendapat respon positif dari pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Terobosan dari para mitra tidak hanya membantu menjawab kebutuhan di lapangan, tetapi juga berhasil memperkuat komitmen para pihak serta meningkatkan keterlibatan masyarakat. Ke depannya, kekuatan tersebut perlu terus dihubungkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Merancang Aksi Berkelanjutan untuk Masa Depan Generasi Bebas Stunting

Sebagai bagian akhir pertemuan, peserta bersama-sama merumuskan rencana tindak lanjut untuk memastikan kolaborasi yang telah dibangun terus berjalan. Dalam rencana tersebut, para perwakilan organisasi masyarakat sipil menyusun sejumlah aksi dan kegiatan yang berpotensi dilakukan bersama pada tahun 2027.

Sejumlah aksi yang disepakati meliputi kampanye bersama, diseminasi praktik baik, serta seri webinar dengan topik yang disesuaikan dengan momentum hari-hari penting terkait isu gizi dan stunting, serta berfokus pada keahlian masing-masing organisasi.

Melalui rencana kolaborasi tersebut, organisasi masyarakat sipil diharapkan dapat terus memperkuat peran dan jejaringnya, sekaligus memastikan setiap inisiatif saling terhubung dan berdampak luas.

“Kekuatan civil society tidak diukur dari banyaknya organisasi yang hadir, melainkan dari kemampuannya membangun jejaring, menyatukan suara, dan bergerak dengan agenda bersama. Mari kita bawa semangat ini menjadi langkah nyata agar upaya perbaikan gizi dan pencegahan stunting dapat terus diperkuat dan manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat,” pungkas Analisis Kebijakan Ahli Madya Siti Alfiah Asisten Deputi Kesehatan, Gizi, dan Pembangunan Keluarga (Asdep KGPK) Setwapres, pada sesi penutupan.

Pada akhirnya, kolaborasi yang dibangun bukan sekadar menyatukan program, melainkan juga menyatukan pengetahuan, pengalaman, dan kekuatan untuk memastikan setiap anak Indonesia dapat tumbuh sehat, berkembang optimal, dan memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.(Humas)